Sang Penyelamat Hutan

Oleh: Valentina (SDN 16 Koba)

 

Ada sebuah Desa di Kabupaten Bangka Tengah tepatnya yaitu Desa Namang. Desa Namang juga merupakan sebuah ibu kota kecamatan, ada seorang pemuda yang mempunyai tekad kuat untuk mempertahankan hutan yang ada di wilayah tersebut. Seorang pemuda itu bernama Zaiwan. Tekad kuat Zaiwan mempertahankan dan berusaha melindungi hutan itu bukan tanpa alasan. Zaiwan mempertahankan hutan ini dengan gigih bukanlah untuk dikuasai secara pribadi tetapi beliau khawatir hutan itu lambat laun akan dirambah oleh masyarakat yang ingin menambang pasir timah di wilayah itu, dari desa sendiri maupun desa tetangga yang berkeinginan membuka tambang inkonvensional di wilayah tersebut. Jika hutan ditambang maka akan membuat hutan menjadi gundul dengan lahan berpasir secara ilegal oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu hutan itu hutan ini menyimpan oksigen, penyerap karbondioksida mencegah terjadinya banjir dan tak kalah pentingnya sebagai tempat hidup flora dan fauna. Jika hutan masih banyak tentu kita akan merasa nyaman, udara yang kita hirup masih bersih dan sehat. Alasan lainnya Zaiwan berusaha dengan gigih mempertahankan hutan ini karena saat masih kecil wilayah ini menyimpan banyak kenangan. Saat kecil beliau sering ikut kakek dan nenek ke ladang padi untuk merawat dan menjaga tanaman padi. Ladang padi tersebut terletak tepat di wilayah ini yang sekarang sudah menjadi hutan lebat. Beberapa alasan inilah yang membuat Zaiwan gigih mempertahankan hutan ini.

Konon katanya saat zaman Belanda wilayah ini pernah dilakukan pengeboran untuk mengetahui kandungan pasir timahnya. Alhasil terdapat banyak sekali kandungan pasir timahnya. Pada waktu itu Belanda berencana mengambil pasir timah itu dengan cara ditambang. Mengetahui rencana Belanda tersebut, orang tua-orang tua yang ada di Desa Namang pada saat itu berusaha menghalangi rencana Belanda tersebut dengan cara ghaib. Wilayah itu dibacakan mantra-mantra agar pasir timah menjadi ringan timbangannya. Mereka tidak mau Belanda melakukan penambangan di wilayah itu karena jika ditambang lahan untuk bertani akan berkurang. Dengan melakukan pasir timah menjadi ringan timbangannya akhirnya Belanda batal melakukan penambangan di wilayah tersebut.

Saat menjabat menjadi kepala desa. Zaiwan berinisiatif menjadikan hutan ini sebagai tempat rekreasi. Hutan ini dinamakan Hutan Pelawan. Sesuai dengan namanya Hutan Pelawan merupakan penghasil madu yang pahit. Saat pohon pelawan berbunga lebah menghisap nektar supaya menghasilkan madu yang sangat baik untuk kesehatan manusia. Selain itu Hutan Pelawan juga ditumbuhi jamur pelawan saat musimnya yang memiliki cita rasa yang tidak dimiliki oleh jamur lainnya dan hanya bisa tumbuh di Hutan Pelawan. Karena itulah jamur pelawan jika dikeringkan bisa mencapai jutaan rupiah.

Zaiwan menggandeng pemerintah desa untuk membeli fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan agar pengunjung merasa nyaman saat berada di wilayah tersebut dan beliau juga mempromosikan tempat wisata ini pada event-event dan juga melalui media. Alhasil beberapa minggu belakangan tempat wisata ini menjadi terkenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Tidak sedikit turis yang berkunjung ke tempat wisata Hutan Pelawan ini seperti dari Australia, Kanada, Jepang, Brazil, Swis dan negara lainnya. Zaiwan pernah dipanggil presiden ke istana untuk diberikan penghargaan karena sudah mempertahankan sekaligus melindungi hutan ini dan menjadikannya tempat wisata yang terkenal.

Pernah diwawancarai salah satu stasiun televisi lokal yang terkait dengan rencana Zaiwan selanjutnya atas mempertahankan hutan itu. Zaiwan menuturkan, “Saya akan terus mempertahankan hutan ini dan saya akan meningkatkan promosi pada media agar hutan ini tetap terkenal.” Zaiwan juga menuturkan “Dengan mempertahankan hutan ini saya tidak hanya melindungi hutan ini tetapi juga melindungi tumbuh-tumbuhan dan binatang dan juga menjaga kebersihan Hutan Pelawan agar udara yang bersih akan membuat manusia menjadi sehat.” Bagi Zaiwan merawat dan menjaga bumi adalah hal yang mengasyikkan.

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Koba. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *