SENANDIKA DI OEJOENG PENA

Dwikki Ogi Dhaswara

Ilustrasi

Bekaespedia.com_30 Maret 1949, kota kecil Toboali bagai menyimpan nafasnya seperti sedang menunggu sesuatu. Kabar telah tersebar dari mulut ke mulut, Sang Proklamator, Ir. Soekarno, akan menjejakkan kaki di bumi selatan Pulau Bangka.

Di antara kerumunan yang telah berkumpul di pelataran Rumah Wedana Toboali, berdirilah seorang remaja tanggung, Sukri, belum genap tujuh belas tahun, tetapi sudah dikenal sebagai penulis muda yang cekatan dalam mencatat tiap denyut peristiwa.

Di genggamannya terdapat buku kecil bersampul lusuh, sahabat setia yang menampung ribuan kalimat yang belum terucap.

Tatkala Soekarno tiba, rakyat bersorak. Sukri maju ke depan dengan tergesa-gesa, menyisihkan orang-orang dewasa yang berkerumun. Dalam hatinya, ia berkata lirih, “Inilah hari yang akan aku simpan dalam lembar sejarah rakyat Toboali.”

Setelah diberi kesempatan bertanya, Sukri menundukkan kepala hormat, lalu bersuara dengan bahasa yang lembut tetapi tegas,” Bung, semangat perjuangan kami telah mengakar dari sejak dulu. Banyak darah, waktu, dan tenaga telah dikorbankan, walaupun proklamasi telah dikumandangkan, kami di pelosok Bangka masih menghadapi keterbatasan, apa rencana Anda untuk Toboali ini?”

Soekarno terdiam sejenak, tampak menimbang kata demi kata yang telah keluar dari mulut remaja itu. Pandangannya kemudian tertuju pada wajah rakyat yang mengelilinginya.

Lalu beliau menjawab dengan suara yang sarat wibawa, “Anak muda, pertanyaanmu adalah pertanyaan yang lahir dari kesadaran historis dan tanggung jawab moral terhadap daerahmu. Toboali memang bukan pusat kekuasaan, tetapi Toboali adalah bagian dari tubuh Republik. Dan Republik tidak akan tegak bila salah satu bagiannya dibiarkan lemah.”

Soekarno melangkap setapak maju, suaranya meninggi dengan ketegasan seorang pemimpin bangsa. “Saya mengetahui bahwa rakyat Toboali telah berjuang sejak masa kolonial. Semangat itu harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Bangunlah sebuah simbol perjuangan kalian, sebuah tempat di mana rakyat dapat berkumpul, belajar, dan mengingat kembali sejarah panjang perlawanan kalian.”

Sukri mencatat cepat. Masyarakat di sekelilingnya terdiam, tersentuh oleh gagasan Bung Karno. Pensilnya bergetar, mencatat tiap rangkaian kalimat yang keluar dari lidah pemimpin besar Indonesia.

Pada hari itu, di kota tua yang menyimpan sejuta kisah, lahirlah tekad seorang penulis muda untuk menorehkan perjuangan bangsanya dengan kata-kata yang takkan lekang oleh masa.

Sukri melangkah pulang dari Rumah Wedana dengan dada yang masih dipenuhi gema oleh kata-kata Bung Karno. Senyumnya tak dapat disembunyikan, ia merasa seolah matahari siang itu ikut menanggung kebanggaannya.

Di tangan kirinya, buku catatan tetap terbuka, huruf-huruf yang baru ditulisnya masih hangat, bagai bara kecil yang menunggu ditiup angin perubahan.

Pada sore harinya, Sukri bertemu dengan tokoh partai Nasionalis yang juga seniman terkemuka di Toboali, Djailani Akin.

Djailani Akin tersenyum melihat Sukri datang tergesa-gesa, lalu berkata “Apa gerangan kabar yang kau tanggung hari ini?”

Sukri duduk di hadapannya, membawa bukunya, dan menceritakan seluruh percakapannya dengan Bung Karno. Kata-katanya mengalir tanpa putus tentang pertanyaannya, tentang diam yang sakral sebelum jawaban, dan tetang seruan Soekarno agar rakyat Toboali membangun sebuah simbol perjuangan.

Ketika cerita itu selesai, Djailani Akin menepuk paha dan bangkit berdiri. “Siang tadi, Bung Karno menjengukku di sini, jika demikian titahnya, maka kita tidak boleh lengah. Toboali membutuhkan tempat berhimpun, tempat mengenang perjuangan, tempat seni dan adat dapat tumbuh kembali, bukan hanya keinginan, tetapi kewajiban.”

Sukri terkejut, dan tak menyangka bahwa Bung Karno bertamu ke kediaman Djailani Akin, sosok yang sangat ia kagumi di Toboali.

Tanpa menunggu lama, keduanya pun melangkah kembali ke Rumah Wedana, menemui Depati Rawi, pemimpin yang dihormati seantero Toboali.

Lahirlah sebuah tekad bersama, tekad untuk membangun tempat kebanggaan masyarakat Toboali, simbol persatuan, saksi perjuangan, dan rumah bagi suara rakyat.

Gedung Nasional.

Dindingnya putih, jendelanya lebar, lantainya adalah tempat untuk ribuan jejak rakyat yang datang membawa harapan.

Setelah Gedung Nasional selesai dibangun. Sukri pun tumbuh menjadi seorang pemuda dengan penanya yang semakin tajam. Kadang tulisannya berupa tentang nasionalisme, kadang renungan, dan kadang pula cerita pendek yang merekam denyut nadi Toboali.

Semuanya tertulis dengan gaya yang sederhana dan perlahan menembus batas kampung. Madjalah Rakjat, majalah yang terkenal pada masa itu.

Tulisannya sering menjadi bahan perbincangan. Namun ketenaran itu, tidak berdiri sendiri. Ada satu nama lagi yang makin sering disebut, yaitu Aida, seorang gadis Toboali yang kepiawaiannya menulis mampu menandingi Sukri sendiri.

Karyanya sering memuat kritik sosial, dan ide-ide tentang keadilan. Sedangkan Sukri, meski sama tajamnya, lebih bernafas tentang persatuan dan kebangsaan. Kedua tulisan itu, layaknya angin dari dua arah, sering beradu gagasan di halaman Madjalah Rakjat.

Maka setiap kali majalah itu tiba di Gedung Nasional, para pembaca akan berkumpul di beranda, berdiri dalam lingkaran, membandingkan dua nama itu, Sukri dan Aida.

Saat itu, Djailani Akin bersama Sukri dan rombongan lainnya tiba di Gedung Nasional. Matanya yang tajam segera menangkap sosok Aida dari kejauhan dan ia menghela napas panjang.

“Anak itu…” gumam Djailani Akin,”Adalah dara cerdas, tetapi berasal dari keluarga yang sering berseteru dengan kita. Ayahnya adalah Ketua Partai Idealis, Ismail, yang sering mempertentangkan soal penggunaan Gedung Nasional. Mereka bilang gedung ini terlalu condong kepada kegiatan nasionalis. Padahal niat kita hanya memajukan seni dan persatuan.”

Sukri terdiam mendengar itu.

Setelah Djailani dan rombongan melanjutkan pembicaraan dengan pengurus gedung, Sukri memberanikan diri untuk menemui Aida.

Senja mulai memendarkan cahaya jingga di belakang mereka.

Sukri berkata perlahan, “Aida.., sungguh diriku membaca tulisan-tulisanmu, sangat menggugah.”

Aida hanya tersenyum tipis lalu pergi tanpa berkata apapun.

Sukri tersenyum, dan untuk pertama kalinya ia merasakan senyuman indah walaupun sebentar.

Di balik keindahan pertemuan itu, angin politik Toboali belum juga tenang. Ayah Aida, yang sering bertikai dengan kelompok Djailani Akin, tidak menyukai jika anaknya didekati oleh seseorang yang berseberangan paham dengan mereka.

Namun di luar segala itu, Gedung Nasional tetap berdiri sebagai pusat segala suara. Di sanalah Sukri dan Aida sering bertemu, kadang beradu argumen, kadang saling menghargai, kadang hanya saling menatap sambil menulis di sudut masing-masing.

Tibalah ketika Gedung Nasional dipadati oleh pemuda-pemudi yang ingin mengikuti diskusi terbuka mengenai peran sastra dalam membangun masyarakat.

Di depan ruangan, Sukri dan Aida duduk berseberangan. Di tengah mereka, sebuah meja kayu tua menjadi saksi bisu pertemuan dua pemikiran anak negeri, dengan dua cara memandang masa depan.

Di akhir diskusi, seorang penonton bertanya, “Apakah sastra harus menjadi alat perjuangan politik, atau harus berdiri bebas tanpa garis ideologi?”

Pertanyaan itu jatuh tepat di antara mereka, seperti percikan api yang tersulut angin.

Aida berdiri, tenang namun tegas.

“Sastra harus berpihak,” katanya.”Ia harus menjadi senjata yang menusuk ke pusat ketidakadilan. Bila suara rakyat tertindas, sastra wajib menjadi cambuk yang mengingatkan penguasa. Ia tidak boleh melunak, tidak boleh tunduk pada pesatuan semu. Persatuan tanpa kritik hanya akan melahirkan tirani.”

Sorak kecil terdengar dari para pendukung Aida, anggota partai Idealis.

Sukri menatapnya dengan mata yang jernih. Lalu ia bangkit perlahan. “Aku percaya, sastra bukanlah palu yang memecahkan kepala saudara sendiri. Sastra adalah cahaya dan cahaya tidak memilih untuk membakar, tetapi untuk menerangi jalan. Bagiku sastra dapat menjadi alat keberpihakan kepada persatuan. Bukan persatuan semu, tetapi persatuan yang tumbuh dari saling memahami, bukan saling menghantam. Sastra yang keras tanpa belas kasih adalah pedang yang melukai tangan pemiliknya. Namun sastra yang lembut tetapi berprinsip… adalah air yang memotong batu tanpa suara.”

Kata-katanya mengguncang ruangan.

Aida terdiam. Ia memandang Sukri, bukan dengan kebencian, melainkan dengan kebingungan yang perlahan berubah menjadi kekaguman. Dalam diam itu, ia menyadari, Sukri tidak memenangi perdebatan dengan logika saja, tetapi dengan hati yang kukuh dan kata-kata menenangkan.

Aida menundukkan wajah, jemarinya meremas kertas catatan. “Jika begitu…”katanya lirih,”Mungkinkah selama ini aku yang terlalu keras memandang dunia.”

Hening yang jatuh setelah itu, bukan hening yang canggung, melainkan hening yang dalam. Semua orang tahu, Sukri telah menang.

Sejak perdebatan itu, Sukri dan Aida, tanpa mereka sadari sering bertemu di halaman gedung itu. Kadang hanya berdua, kadang ditemani angin yang bergurau dengan dedaunan ketapang tua.

Sukri datang membawa catatan kecilnya, sementara Aida membawa buku tulis lusuh yang sampulnya mulai terkelupas.

Dialog mereka tidak lagi keras, kini berubah menjadi percakapan lembut, pelan-pelan menumbuhkan sesuatu yang tidak bisa disebut, tak pula ingin diakui.

Namun, kabar tentang kedekatan mereka akhirnya sampai kepada telinga Ayahanda Aida.

Hati ayahnya mulai panas. Bukan semata-mata kerana perbedaan partai, tetapi kerana ia tahu siapa yang berdiri di belakang Sukri dan kawan-kawannya, para pejuang TKR yang namanya menggema sampai ke muara dan daratan Toboali.

Ada Suhaili Toha, yang kepalanya tak pernah menunduk bahkan di hadapan moncong senapan musuh. Ada Kapten Alising, pejuang gagah bagai meriam bertulang manusia. Ada Umar Matali, laksana bayang-bayang malam, hadir tiba-tiba, lenyap tiba-tiba. Ada juga Abdullah Sani, pejuang yang langkahnya perlahan tapi ucapannya tajam bak keris turun-temurun.

Ayah Aida, Ismail, tahu bahwa mereka bukan orang-orang biasa. Mereka tidak takut pada bentakan, tidak gentar pada ancaman. Dan di tengah lingkaran para pejuang itulah Sukri berdiri tegak, jujur, tak mau berbelit dalam ucapan.

Karena itu, Ismail tak berani berhadapan langsung dengan mereka. Dalam hatinya terselip takut, terselip segan.

Aida pun menjadi korban dari kegelisahan ayahya. Ia dilarang untuk bepergian ke Gedung Nasional. Larangan ayahnya membuat ia menunduk dalam diam.

Keesokan harinya, halaman Gedung Nasional terasa janggal. Sukri duduk beriringan dengan gelisah yang tak dapat ia tuliskan.

Sementara di rumahnya, Aida duduk dekat jendela, pena di tangan, hati di persimpangan.

Di dua tempat berbeda, dua hati muda gelisah memikirkan satu sama lain.

Dengan kegelisahannya, diam-diam Sukri mengirimkan surat ke rumah Aida.

Toboali, 14 Februari 1955

Aida jang haloes boedinja,

Ma’afkanlah dirikoe, jang ketjil ini telah mengganggoe ketenteraman harimoe. Soedah beberapa hari koe menantikan langkahmoe di lamannja Gedoeng Nasional, akan tetapi jang datang hanjalah soenji dan desir angin petang belaka.

Maka dengan ini koe toelis, hendak menanjakan kabarmoe. Apakah engkau dalam keadaan baik? Apakah penamoe masih menari di atas kertas seperti jang soedah-soedah? Koe harap demikian, sebab toelisanmoe adalah sinar jang menghidoepkan semangatkoe dalam bekardja.

Soekri.

Ketika terbaca oleh Aida, wajah gadis itu memerah menahan debar. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tanpa disangka, Ismail, ayahnya melihat amplop kecil itu terselip di meja menulis Aida.

Sekali baca, wajah ayahnya berubah muram, bukan hanya kerana marah, tetapi kerana takut pada bayang-bayang masa yang kian genting.

Di berbagai daerah di Indonesia, aksi pemberontakan partai-partai idealis mulai berkecamuk. Pemerintah pusat mengeluarkan penyataan tegas. Siapa pun anggota, simpatisan, atau keluarga dari kelompok yang dicurigai akan dipantau, diawasi atau dipanggil.

Di Toboali, kabar itu tiba seperti halilintar. Kelompok nasionalis yang dipimpin oleh Djailani Akin, bersama tokoh TKR, berdiri tegas mengecam gerakan tersebut.

Ismail tahu, suasana semakin tidak aman. Sebagai kepala keluarga juga ia membawa keluarganya untuk bergegas pergi dari Toboali. Aida hanya mampu menunduk. Ia memandang jendela, membayangkan halaman Gedung Nasional, membayangkan Sukri yang mungkin menunggu kabar darinya.

Dalam hatinya bergumam, “Apakah ia akan mengira aku pergi tanpa pesan?”

Malam itu mereka berangkat dengan kapal ke Belitong sunyi, tanpa salam perpisahan, meninggalkan Toboali yang sedang tegang oleh bayang-bayang politik.

Namun sebelum berangkat, Aida menulis sepucuk surat pendek. Surat itu ia titipkan kepada sahabatnya yang sering membantunya mengumpulkan tulisan. Dengan penuh janji, sahabatnya akan mengirimkannya kepada Sukri beberapa hari kemudian.

Toboali, malam kepergian kami.

Soekri,

Akoe mengharap soerat ini sampai ke tanganmoe. Akoe ingin memberitahoe, dirikoe dan Ajah terpaksa berpergian ke Belitoeng malam ini, kerana keadaan politik jang makin genting. Kami haroes mengasingkan diri sementara, agar tiada timboel pertikaian di Toboali.

Dirikoe baik-baik sadja, djangan engkau koeatir. Hanja hati ini jang berat meninggalkan halaman Gedoeng Nasional, tempat kita berbahas fikiran dan membatja karya bersama.

Soekri,

Perhoeboengan kita mungkin terhalang oleh politik jang tiada kita kehendaki. Tetapi akoe pertjaja, dalam alam sastra, kita tetap dapat bersoeara. Maka biarkanlah toelis-toelisan kita bertemoe d lembar Madjalah Rakjat, biar pena mendjadi titian antara akoe dan engkau.

Jadi kelak keadaan aman, nistjaja kita akan bersoea kembali.

Salam dari dirikoe,

AIDA.

 

 

TAMAT

Toboali, 24 November 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *