Oleh Meilanto
Nazmi, anak laki-laki sulung dari tiga bersaudara. Ia merupakan cucu pertama dari kakek dan nenek, Selim dan Mumun. Nazmi berumur tujuh saat kurang empat bulan. Saat ini ia mempunyai dua adik Owais dan si bungsu Taza. Kedua adiknya berusia tiga tahun satu bulan dan lima bulan.
Sebagai anak sulung, Nazmi sama seperti anak-anak lainnya menyayangi kedua adiknya. Bahkan bermain bersama dengan Owais.
Kehidupan di kampung sangat beruntung. Lingkungan dekat rumah banyak tanaman buah atau kelekak. Rambutan, kelapa, matoa, jeruk kunci, durian, jambu, nangka, mangga. Saat itu musim rambutan tiba. Bunga-bunga rambutan yang tampak keluar dari tangkai sangat indah.
“Dek, kalau rambutan ini sudah masak nanti kita petik, ya, kita jual dan sebagian kita berikan kepada tetangga,” ujar Nazmi kepada adiknya. Adiknya yang masih kecil itu tampak mengerti apa yang disampaikan oleh sang abang.
“Ya bang.”
Hari berganti minggu dan bulan. Rambutan telah masak. Warna merah dan orange berpadu dengan hijau daun yang menyegarkan.
“Ayah, yo kita panen rambutan!”
“Ayo!”
Sang ayah menyiapkan galah. Rambutan-rambutan yang telah masak dipetik dan dimasukkan ke wadah. Buah rambutan yang dipetik sudah banyak.
“Sudah ya, nanti kita petik lagi kalau rambutannya sudah kita bagikan kepada tetangga.”
“Siap ayah.”
“Horeee….kita panen rambutan.”
Nazmi dan Owais sangat senang. Ayah sangat cekatan membersihkan daun-daun yang melekat pada tangkai. Rambutan yang dipetik sangat banyak.
“Ayah, rambutannya kita jual ya!” pinta Nazmi sambil menguyah buah rambutan yang sudah dikupas. Begitu juga dengan Owais. Gigi ompongnya tak menyurutkan semangatnya untuk makan rambutan.
Rambutan-rambutan yang dipetik sebagian dibagikan kepada tetangga dan keluarga. Sebagian dijual. Dan ternyata peminatnya sangat banyak. Tidak sampai satu jam, rambutan yang dijual di depan rumah habis terjual.
“Alhamdulillah kita dapat uang,” ujar Nazmi. Sang adik tampak senang. “Ye…ye…ye.”
Malam menjelang. Selepas solat magrib yang diimami sang ayah, Nazmi mengaji, diteruskan belajar yang di dampingi sang ayah. Ayahnya sebagai seorang guru sekolah dasar di kampung sebelah mempunyai jadwal khusus membimbing anak-anak di rumah. Begitu juga dengan ibunya, guru di SMA yang tak jauh dari rumah.
Malam itu Nazmi belajar tentang kerja sama. Buku tema dari sekolah dibuka. Ia membaca sudah lancar. Setelah membaca, ia diminta bercerita isi bacaan. Sementara itu adiknya duduk manis dekat Nazmi. Membuka-buka halaman buku yang sengaja dibeli sesuai dengan usianya.
“Ayah, kalau Nazmi juara 1, boleh gak dibelikan sepeda baru?”
Memang saat ini, Nazmi sudah punya sepeda. Sepeda itu berwarna hijau yang dibelikan saat ia berumur tiga tahun. Roda kecil sebagai penyeimbang sudah dibuka. Sepeda itu memang sulit ia kendalikan lagi mengingat badannya sudah mulai meninggi, Kakinya sulit mengayuh sepeda itu.
Ayah dan ibunya saling berpandangan. “Kalau Nazmi dibelikan sepeda baru, sepeda yang lama untuk adik Owais.”
“Boleh, nanti ayah dan ibu belikan sepeda baru, kalau juara 1 ya!” sang ibu menjawab sambil meniduri si kecil.
Habis pulang sekolah, Nazmi tidur beberapa saat. Setelah itu, tak lupa ia membuka-buka buku pelajaran. Atau mengerjakan tugas yang diberikan guru di sekolah.
Sore hari, ia bermain bersama teman-teman dekat rumah. Sore itu rumah tampak ramai. Ada empat bocah kecil yang seukuran Nazmi. Rupanya anak-anak itu teman satu kelas Nazmi yang sengaja ia ajak ke rumah untuk memetik buah rambutan.
Mereka sangat senang makan buah rambutan. Tak lupa dihadiahi sekantong plastik buah rambutan untuk dibawa pulang.
“Terima kasih paman, ya sudah memberikan kami buah rambutan!” anak-anak kecil itu tampak senang walaupun wajah-wajah polos penuh keringat.
Kegiatan belajar Nazmi di rumah selalu dibimbing kedua orang tuanya.
Menjelang ulangan semester dua, kuantitas belajarnya ditambah. Habis magrib mengaji, kemudian belajar sampai pukul 19.30. Bangun tidur belajar lagi untuk membaca atau mengulang-ulang pelajaran. Ia belajar dengan giat. “Aku harus juara kelas dan membeli sepeda baru” begitu pikir Nazmi.
Hari ulangan semester dua tiba.
“Ayah, ibu, doakan Nazmi ya semoga bisa menjawab soal-soal ulangan” saat ia mencium tangan kedua orang tuanya saat akan berangkat ke sekolah.
“Iya, ayah dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Nazmi.
Hari pembagian raport kenaikan kelas pun tiba. Ia didampingi oleh ibu ke sekolah.
“Juara ke tiga diraih oleh Nazwa” suara wali kelas satu membacakan peraih tiga nilai tertinggi di kelas.
“Ananda Nazwa dan orang tuanya silakan ke depan”
Kelas tampak riuh rendah. Tepuk tangan dari siswa dan orang tua yang lain.
“Juara kedua diraih oleh Arifin.”
Arifin dan ibunya segera ke depan kelas untuk bergabung dengan Nazwa dan ibunya.
“Dan juara pertama diraih oleh Nazmi!” Ia yang duduk dekat ibunya langsung bersorak gembira. “Ya…alhamdulillah!”
Peraih nilai tertinggi mendapatkan tropi, hadiah dari sekolah.
“Assalamu’alaikum ayah, Nazmi juara satu di kelas,” lapornya saat sang ayah pulang kerja. “Ayo belikan sepeda untuk Nazmi sebagai hadiah juara satu!” tagih Nazmi.
“Alhamdulillah selamat ya atas prestasinya!”
Minggu pagi langit tampak cerah. Ayah dan ibu sudah berencana mengajak anak-anak ke pasar untuk membeli sepeda baru untuk Nazmi.
Di toko sepeda, Nazmi memilih sepeda berwarna biru sesuai dengan warna kesukaannya. Ia sangat senang karena telah berhasil meraih cita-citanya juara satu di kelas dan mendapat hadiah sepeda baru.
Dari Nazmi dapat diambil hikmah bahwa untuk meraih cita-cita dan harapan butuh perjuangan. Memang dari seorang anak kita mendapatkan pelajaran kehidupan. Anak memang istimewa. (BP/ KM)*
Catatan: cerpen ini telah diterbitkan dalam buku antologi Anakku Istimewa dalam event menulis yang diselenggarakan oleh PT. LAN Tulungagung, Juli 2023.
