Suryan Masrin Paparkan Islam dan Melayu (di) Bangka di SeiFa IAIN Babel

Bekaespedia.com, Bangka – IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung menyelenggarakan kegiatan International Students Conference dalam momen Sedulang International Festival (SeiFa) tahun 2025.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Dies Natalis ke-21 tahun. Acara berlangsung selama dua hari yakni Senin 27 Oktober 2025  dan selasa 28 Oktober 2025.

Dihari pertama, Senin (27/10/2025) di awali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan sesi pertama konferensi yang diisi oleh Pemaparan inspiratif dari para pembicara utama seperti Prof. Muhammad Ali, Ph.D. (University of California Riverside), Prof. Dr. Zulkifli, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Masing-masing narasumber bercerita seputaran tema Melayu secara global dan internasional.

Selanjutnya, dihari kedua diisi oleh Narasumber Suryan Masrin (penikmat dan pemerhati manuskrip di Bangka, khusus aksara Arab Melayu) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada sesi ini Suryan Masrin  mengulas isu-isu kontemporer Islam Melayu dalam konteks kemanusiaan dan perdamaian.

Dalam kesempatan ini, Suryan Masrin, menguraikan tema tentang “Islam dan Melayu (di) Bangka.”

Dalam penjelasannya, Suryan menelusuri sejarah perkembangan peradaban di Pulau Bangka sejak tahun 1800-an, ia menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam berpadu dengan budaya Melayu dalam membentuk karakter masyarakat Bangka, baik dari segi sifat, cara berpakaian, maupun pola kehidupan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Menurut Buddhing, dalam catatannya tahun 1861 menggambarkan bahwa orang Bangka “mereka adalah orang yang baik hati, lemah lembut, ramah tamah, suka menolong, komunikatif, dan mereka penuh pengertian, tulus, jujur, moderat, dan penurut atau mudah dipimpin, tetapi juga sangat takut dan percaya takhayul. Pakaian mereka, seperti cara hidup mereka, sangat sederhana.” terang Suryan.

Selanjutnya, masih menurut Buddhing, bahwa pakaian orang Bangka sering hanya mengenakan satu pakaian dari kulit kayu, terkadang dengan rompi tanpa lengan atau rompi dari bahan yang sama. Yang lebih kaya (orang-Abang) mengenakan sarung katun, celana panjang, rompi, dan jilbab orang Melayu, artinya berpakaian selayaknya pakaian orang Melayu pada umumnya.

Peserta sangat antusias menyimak dan mendengarkan paparan yang disampaikan oleh Suryan. Apalagi informasi ini bagi  peserta merupakan informasi baru dan membuka gerbang informasi terkait kehidupan orang Bangka di masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *