Oleh: Aruna Putri Septianti (Siswa SMP Negeri 1 Koba)
Aku pikir semuanya akan berubah saat masuk SMP. Ternyata, dugaanku salah. Aku datang ke sekolah baru ini dengan harapan besar. Mendapatkan teman, serta berada di lingkungan sekolah yang menyenangkan. Namun kenyataan menamparku. Tak ada yang berubah, sama seperti dulu. Aku masih menjadi siswa yang tak mempunyai satu pun teman. Tidak ada yang ingin berteman denganku. Tentu saja, memangnya siapa yang ingin berteman dengan seorang gadis yang lebih memilih menghabiskan waktunya di sudut kelas sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri?
Namaku Alea Diandra. Dikenal dengan nama panggilan Al. Sejak kecil aku selalu merasa berbeda, tak pandai berbicara dan tak percaya diri. Keramaian adalah musuhku.
Hujan turun perlahan, seakan-akan ingin menemaniku pulang. Rintiknya membasahi jalanan. Diam-diam memberi salam pada sore yang muram. Aku melangkah keluar dari kelas dengan langkah diam. Tidak ada yang menyapa, tidak ada yang menoleh. Memang tidak ada alasan bagi mereka untuk menoleh padaku.
Sekolah hari ini sama seperti hari-hari biasanya. Aku hanya duduk diam di pojok kelas sambil memperhatikan teman-teman yang asyik bercanda, saling berbagi cerita, dan tertawa bersama-sama. Aku iri, sangat iri. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan bersama mereka. Saling bertukar cerita, menyela canda, dan tertawa bersama. Namun, tak ada seorang pun yang ingin mengajakku berbicara, kecuali Nenek.
Nenek adalah satu-satunya orang yang ingin mengajakku berbicara dan sangat antusias mendengar cerita-ceritaku. Tetapi, Nenek telah pergi jauh, tak akan kembali. la meninggal dua minggu lalu karena penyakit jantung yang diidapnya. Sekarang, tidak ada lagi yang ingin mendengarkan ceritaku, yang selalu ada disaat aku membutuhkan, atau aroma masakkan yang menyambutku saat pulang sekolah.
Aku bukan yatim ataupun piatu. Orang tuaku masih ada, hanya saja aku tak mendapatkan perannya. Mereka berdua telah tenggelam pada pekerjaannya. Bahkan sekadar menanyakan kabar anak semata wayangnya saja mereka tak sempat. Sejak kecil aku selalu dititipkan ke rumah nenek. Neneklah yang merawat dan membesarkan dengan penuh kasih sayang, begitu pun kasih sayangku padanya. Namun ia telah pergi. Rasanya, aku tak mempunyai semangat hidup.
“Piiii…Pi….”
Tunggu, suara apa itu?
Suara itu berhasil menyadarkanku dari lamunan, namun tiba tiba….
“Tinnnnn…Tinnnn…”
Suara klakson berteriak seakan-akan ingin menarik perhatian.
Sebuah truk melaju dengan kencang dari arah samping.
“Tinnnn…Tinnnn…”
Hampir, sedikit lagi truk itu menabrakku. Untungnya aku sempat menghindar dengan meloncat ke arah belakang. Aku jatuh terduduk. Tubuhku terciprat genangan air karena motor dan mobil yang melindas. Dingin, takut, dan panik menjadi satu. Napasku menderu, jantung berdebar kencang, serta otakku masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak ada yang membantu berdiri, tak ada yang peduli. Bahkan truk tadi hanya melaju tanpa menghiraukanku. Aku menatap payungku yang sudah terlindas. Rasa dingin menjalar sempurna, serta rasa takut yang tak kunjung pergi. Namun bagaimanapun, aku harus kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan ke rumah.
Sejak awal memang salahku karena tak memperhatikan jalan. Aku melanjutkan langkah sambil memeluk tubuh kecil yang kedinginan.
“Kring! Kring! Kring!”
Jam alarm itu berhasil mengganggu tidur. Saat membuka mata, sinar matahari telah menyapa dari balik jendela. Aku mematikan alarm lalu berencana untuk kembali tidur. Hari ini akhir pekan, dan tak ada pekerjaan yang harus aku kerjakan sekarang. Jadi tak ada salahnya untuk tidur satu jam lagi kan? Kepalaku juga masih terasa pusing karena hujan kemarin. Baiklah, aku sudah mengambil keputusan. Namun saat mataku hampir terpejam sempurna, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berjalan di kaki. Aku reflek loncat dari atas kasur.
“Piiiii piiiii”
Eh, suara ini? Aku tak mungkin salah ingat, suara ini jelas adalah suara yang berhasil menyadarkanku dari lamunan saat hampir tertabrak kemarin. Sekarang rasa kantuk telah hilang digantikan dengan rasa penasaran. Coba kalian lihat hewan aneh di depanku ini.
“Piiii”
Ternyata suara itu berasal dari hewan ini. Tapi hewan apa ini? Aku yakin sekali tak ada hewan seperti ini di dunia. Baiklah, akan aku deskripsikan hewan ini pada kalian.
Ukuran hewan ini tidak jauh berbeda dari ukuran kucing, telinganya mirip telinga rubah dan ekornya seperti ekor tupai, serta seluruh tubuhnya berwarna biru transparan. Sebenarnya hewan apa ini? Apakah ini hanya mimpi? Eh tunggu, hewan itu berlari ke depan cermin tua yang berukuran besar, cermin itu adalah peninggalan dari nenek. Dan… apa? Hewan aneh itu masuk ke dalam cermin! Maksudku, ia menembus cermin itu dan menghilang.
Aku tidak salah lihat kan? Hewan itu benar-benar menghilang. Kalian kaget? Bagaimana denganku yang melihat kejadian ini dengan mata kepalaku sendiri? Oh entahlah, sekarang rasa penasaranku semakin meningkat. Aku mendekati cermin tua itu, dan memperhatikannya secara detail. Benar, ini memang cerminku, tidak ada yang berubah kok, tapi bagaimana hewan itu bisa masuk ke dalam cermin ini? Emm.. apakah aku juga bisa masuk?
Tanpa sadar aku mendekatkan jari ke cermin, dan wow! Jari ini benar-benar bisa menembusnya. Aduh, sekarang rasa penasaranku meningkat. Tidak, jangan Al, bagaimana jika nanti aku tak bisa keluar lagi dari cermin ini? Tetapi, tanpa persetujuan dariku, kaki ini telah melangkah masuk ke cermin itu. Tiba-tiba… semuanya jadi terang, seakan-akan aku telah memasuki sebuah portal yang membawaku ke dunia lain.
Belum sempat mencerna apa yang terjadi, aku kembali terkejut. Lihat, jelas sekali ini bukan kamar lagi. Sekelilingku telah berubah menjadi hutan dengan pohon-pohon yang tinggi dan berwarna-warni. Ada pohon yang berwarna kuning, ungu, merah, bahkan pink. Aku yakin sekali ini bukan di dunia kita. Coba lihat, di depanku ada sekawanan gajah yang lewat, tapi ini gajah atau bukan sih? Mereka bukan berjalan, tetapi terbang! Dan lagi-lagi berwarna-warni.
“Hai” Hei tunggu, aku belum sempat mencerna gajah tadi.
Saat menoleh, aku melihat gadis cantik yang sepertinya seumuran denganku? Tidak, penyakitku kambuh lagi saat bertemu dengan manusia. Aku mulai grogi dan tidak berani menatapnya. Tapi apakah dia manusia?
“Halo? Kenapa kau tak menjawabku?”
Bagaimana ini, mulutku bungkam, tidak mempunyai keberanian untuk menjawab.
“Ayolah, jangan takut, aku gak gigit kok.”
Eh, sepertinya dia ramah padaku? Oke, ayo Al, beranikan dirimu!
“H-hai, siapa kamu?”
Akhirnya aku berani menjawabnya. Namun, belum berani menatap gadis itu.
“Makanya kita kenalan dulu dong. Aku Violet, kalau kamu?”
“Alea.”
“Nama yang cantik, seperti orangnya.”
T-tadi dia memujiku? Dengan ragu, aku mulai mengangkat kepala dan untuk pertama kali menatapnya. Cantik. Jika diperhatikan secara langsung, dia sangat cantik. Eh, tapi dia mempunyai telinga yang mirip sekali dengan telinga rubah, dan ekornya yang mirip ekor tupai, serta rambut birunya yang bergelombang bagaikan ombak yang tenang. Tunggu, aku jadi teringat sesuatu. Benar sekali, dia mirip dengan hewan aneh tadi.
“Di mana hewan aneh itu?”
Aku langsung bertanya dengan antusias.
“Eh kok tiba-tiba kamu antusias banget?”
“E-eh? Maaf, aku hanya penasaran pada hewan aneh yang membawaku ke tempat aneh ini.”
Langsung saja aku jujur dengannya, namun wajah gadis itu langsung berubah, sepertinya dia marah.
“K-kenapa wajahmu berubah?”
“Ihhhh Al, beraninya kamu bilang aku aneh.”
Loh, padahal kan aku tidak bilang begitu, iya kan?
“Hewan itu adalah aku, Al. Dan tempat ini adalah tempat tinggalku, namanya Questia.”
Hah? Maksudnya? Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
“Sepertinya banyak yang harus aku jelaskan padamu. Baiklah, aku jelaskan sambil berjalan-Jalan.”
Violet mengajakku berjalan mengelilingi tempat aneh ini yang dia bilang namanya Questia.
Dan dia menjelaskan banyak hal tentang tempat ini, serta hewan aneh tadi. Violet bilang, hewan itu adalah bentuknya saat keluar dari Questia. Lalu ternyata cermin tua dari nenek adalah portal yang bisa menghubungkan dunia kita dan Questia. Aku mengenal lebih banyak tentang Violet, ternyata ia sangat baik dan mengobrol dengannya adalah hal yang menyenangkan. Dan kalian tahu? Ternyata Violet sudah mengikutiku dari beberapa hari lalu, namun dia masih malu menyapa. Dan saat aku hampir tertabrak truk, dialah yang menyelamatkanku.
“Nah kamu sudah paham kan apa itu Questia?”
“Ya.”
“Sekarang, kita adalah teman, oke?”
Aku mengangguk lalu memeluknya, tentu aku sangat bahagia karena akhirnya mempunyai teman.
“He. He. jangan peluk terlalu erat dong, sesak tahu!”
“Ehehehe, maaf.”
Mulai saat itu, aku berteman dekat dengan Violet. Saat pulang sekolah atau sedang bosan, aku pasti akan mengunjungi Questia. Violet itu cerewet, mudah kesal, tapi dia lucu sekali saat marah. Jadi aku ketagihan untuk menjahilinya.
“Al suka banget jahil, awas kamu ya!”
“Weeeee, kabur!”
Hehe, kejar-kejaran dengan Violet seru banget loh!
Akhirnya aku kembali mempunyai semangat hidup. Dengan Violet, aku jadi mengerti arti pertemanan. Dia mengajarkan banyak hal padaku. Seperti cara berteman dengan banyak orang. cara bersosialisasi, bahkan cara mencari topik dengan orang tua agar mereka tertarik mengobrol padaku.
“Jadi gini ya Al, kalau kamu lagi kumpul bareng orang tua kamu tuh, jangan diem aja, coba kamu cari perhatian mereka.”
“Tapi aku gak ahli nyari topik.”
“Tenang, aku punya beberapa topik nih, nanti saat makan malam, kamu praktekin ya, Intinya tuh, kamu gak boleh malu atau pun grogi, nanti jadi canggung.”
“Tapi..”
“Udah, kamu cobain aja, dijamin berhasil.”
Ternyata, apa yang dikatakan oleh Violet benar, sekarang ayah dan ibu tertarik mendengar ceritaku. Selama ini, penyebab mereka tidak mengajakku berbicara karena mereka juga tak pandai memilih topik. Tidak hanya itu, Violet juga mengajarkan cara pendekatan kepada teman-teman kelasku. Lagi dan lagi, apa yang Violet ajarkan berhasil. Sekarang aku tidak hanya sekedar melihat kebahagiaan teman-teman menyela canda, bercerita, dan tawa dari pojok kelas, namun sekarang aku ada di antara mereka.
Saat pulang sekolah, aku segera mengunjungi Questia, lalu menceritakan kegiatanku di sekolah.
“Hai Al, udah pulang? Gimana sekolahnya hari ini?”
“Seru banget tau. Aku punya teman baru lagi nih, namanya Evelen, dia baik bangetttt!”
“Wih, makin banyak ya teman kamu.”
“lya dong, aku kan praktekin cara yang kamu ajarin.”
“Tuh, makanya jangan ragukan Violet!”
Mau bagaimana pun latar belakangnya, Violet adalah teman yang menyenangkan. Sayangnya aku tidak bisa menceritakan Violet pada siapa pun, karena mereka pasti tak percaya padaku. Itu bukan hal penting, aku tidak peduli, dan aku tidak pernah bertanya apakah Violet nyata atau tidak. Karena aku takut menyakiti hatinya, atau bahkan ia pergi karena marah.
Hari demi hari aku lewati dengan hidup yang baru. Aku yang sekarang jauh berbeda, sekarang aku bukan Al yang takut bersosialisasi, tak percaya diri, atau tak pandai berbicara. Sekarang aku adalah anak yang ceria, bukan pendiam. Semua karena Violet. Karenanya aku bisa melewati masa-masa SMP dengan penuh pengalaman baru. Mempunyai banyak teman, dan ada di lingkungan sekolah yang menyenangkan, seperti impianku dulu.
Namun, pada suatu hari saat aku memasuki kamar untuk menemui Violet setelah pulang sekolah, cermin tua peninggalan nenek, telah hilang. Aku tidak bisa menemukannya di kamar. Saat aku tanyakan pada ibu, ternyata cermin itu telah dijual.
“Oh cermin itu ya, sudah ibu jual di toko barang bekas, karena cermin itu udah tua banget Al, jadi ibu putuskan untuk membelikan yang baru.”
Mendengar itu, aku sangat panik dan bergegas menuju toko barang bekas yang ibu maksud. Saat aku menanyakan pada pemilik tokonya, la bilang cermin itu entah hilang ke mana. Telah ia cari, namun masih belum menemukannya.
Sejak saat itu, aku kehilangan kontak dengan Violet, karena cermin tua peninggalan nenek adalah satu-satunya portal menuju Questia. Setiap hari aku selalu berharap bisa bertemu dengan Violet. Saat melihat cermin, aku selau teringat padanya. Tahun demi tahun aku lewati tanpanya. Walau sekarang aku telah mempunyai banyak teman, Violet tak akan pernah tergantikan. Sekarang aku sering bertanya-tanya, apakah Violet nyata atau sekedar imajinasi seorang anak yang kesepian? Nenek pernah bilang padaku, di dunia ini masih banyak hal yang belum kita ketahui. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kabupaten Bangka Tengah Tahun 2025 cabang menulis cerpen.












