Oleh : Marhaen Wijayanto,
Bekaespedia.com, Hujan tahun kemarin membawa angin kenangan yang masih tersimpan. Foto di beranda membuat saya teringat, akhir tahun kemarin bebukitan pinggiran kampung kakek membawa serasa kembali pada pelukan damai itu.
Sepatu yang pernah kakek berikan masih saya pakai. Paling tidak menakar dan jadi lambaran rindu kami pada sebuah tempat yang selalu ayah ceritakan.
Tidak ada setangkaipun yang mampu mengalahkan mawar di taman sengaja dihantar. Agar kami mengenang kebersamaan sama halnya ketika di kampung kakek menyalami satu persatu tanda suka di beranda.
Tapi kini kami hanya bisa meratap berkardus-kardus bantuan itu bisa sampai ke sana. Dari warta ke warta, kami berharap kabar baik dari keluarga tercinta kami yang jauh di sana. saya masih berharap, suatu waktu bisa kembali. Mengharap pelukan dan mencium tangan sanak saudara di sana.
Laras masih berharap mendapat hadiah peringkat kelas dari kakek dan nenek di kampung. Piagam di tangannya ia pegang setelah pulang dari sekolahnya, tapi yang ia dapat adalah kabar duka. Kampung kakek sekarang larut terbawa banjir yang turun dari Gunung.
Sebenarnya kali ini adalah waktunya menepati janji setelah ia mengalahkan anak kepala sekolah saat perebutan juara kelas. Dengan piagam dan piala kecil di tangannya ia akan sangat bangga membawanya pulang kampung ke rumah kakek dan nenek. Tidak seperti tahun kemarin saat Laras menangis karena hanya mendapat juara dua di kelasnya. Laras menatap layar di gawai saat air bah meluluhlantakkan harapan dan kenangan yang ingin kemi pupuk saat liburan ini.
Beranda media sosial masih membisikan, seakan menggandeng tangan ke kami kampung halaman kakek. Hujan rintik yang membawa makna, menarik kami seperti kembali ke pangkuan beta. Belaian tangan kakek saya harap masih mampu meredakan beratnya hidup di rantau. Liburan tahun kemarin memang turun hujan, namun bukanlah hujan yang menghilangkan harapan untuk liburan.
Demikian halnya dengan Laras. Seragamnya belum juga ia tanggalkan, masih terpakai rapi, namun jilbab yang ada sedikit noda saus itu basah dengan setetes dua tetes air mata. Meski mendapat juara kelas, Laras kali ini tak liburan ke rumah kakek. Sampai sekarang kabar tentang kakek tak terdengar. Apakah mengungsi, apakah kiranya kakek bisa ditemukan? Lalu masih sehatkah beliau? Bagaimana dengan kampung halaman yang sekarang sudah tertimbun tanah itu? Tempat ayah kini dibesarkan terlanda bencana.
Hujan tahun ini beda dengan tahun kemarin. Tangan-tangan jahat yang menebang pohon membuat kami seakan berdiri di atas jarum. Negeri kakek yang hijau kini berubah jadi lautan lumpur jahat. Jembatan tempat lewat ke kampung pun sudah ikut hanyut. Jika ada keinginan ke sana, tentu kami tak bisa lagi lewat. Saya hanya bisa menghibur Laras yang wajahnya sendu.
Kata Ustadzah Suci, banjir itu karena kita tidak menyayangi pohon. Tanah yang harusnya dicengkram oleh pepohonan di gunung akhirnya ditebang liar. Kata beliau, Orang-orang tak berperasaan itu hanya berpikir keuntungan. Ada yang membuka lahan untuk sawit, kentang, hingga tak melihat guyuran besar hujan membawa kampung halaman kekek jadi lautan lumpur.
“Di sana surganya kerusakkan alam dan hutan. Tak hanya pepohonan yang ikut larut, binatang tidak akan mendapat perlindungan dan suaka lagi di sana. Entah berapa ribu spesies yang kehilangan tempat berteduh dan tumbuh kembang. Semua karena tangan-tangan rakus yang tak membuka hati untuk keberlangsungan masa depan!”
Laras masih menatap layar gawainya dengan sendu. Di sana ia melihat Ustadzah Suci berbicara lewat saluran sekolah. Beliau memberi pesan pada anak didiknya yang akan menghadapi liburan sekolah agar berperilaku sayang pada lingkungan. Suara Ustadzah menyatu dengan tayangan kampung-kampung yang hilang karena banjir bandang.
Air bah yang menghanyutkan kampung kakek membuat ia semakin bersemangat menonton. Dia tak menyangka, perjuangan mendapat peringkat satu gagal karena satu kata, yaitu banjir. Hal itu disampaikan Ustadzah Suci. Laras sedikit mengerti tentang penjelasan itu.
Di ruang tamu, ayah bicara di telepon dengan seseorang. Suara beliau sangat keras hingga Laras yang mendengar penjelasan ustadzah lewat podcastnya menoleh. Ayah yang sibuk dengan bengkel dan aneka onderdil mobilnya mendadak jadi orang peduli sekali dengan lingkungan dan pastinya hutan.
“Lawan terberat setelah merdeka ternyata adalah pergulatan melawan bangsa sendiri, bukan lagi bangsa asing. Zaman dahulu perlindungan pada hutan dan suaka sudah dimulai, namun dari waktu ke waktu ternyata setelah merdeka justru orang dari bangsa sendirilah yang merusak apa yang dirintis. Para pebisnis perkebunan itulah biang keladi kerusakan hutan di pegunugan dekat kakek kami tinggal.
“Zaman dahulu sudah ada boschwezen atau sejenis dinas kehutanan. Tujuannya adalah menjamin ketersediaan kayu untuk infrastruktur (rel kereta api dan kapal) serta menjaga fungsi hidrologis (sumber air) bagi perkebunan. Ternyata sekarang manusia tak bisa dihadapkan pada kata-kata dan tulisan. Manusia zaman sekarang harus diberi semacam bencana agar mampu menaruh pola pikirnya ke guci yang tepat untuk di minum.”
Seperti biasa di ruang baca, ayah meminum kopi sembari menunggui koran nasional yang beberapa hari terakhir menangisi negeri dengan berita duka bertema lingkungan. Laras dengan piagam peringkat satunya yang sendu mendekat. Ia tak lagi melanjutkan ceramah cinta lingkungan dari ustadzah. Kali ini yang ia bayangkan hanya berkemas baju dan menuju liburan yang menyenangkan. Sementara suara ayah di telepon semakin keras hingga mematik perhatian Laras untuk mendengarnya.
“Zaman dahulu Pemerintah Kolonial sebenarnya bermaksud memberi keseimbangan dengan dibukanya lahan untuk perkebunan. Bahkan Bukit Barisan adalah tempat terpenting dari perlindungan, sangat berbahaya jika disentuh. Mentalitas kuli yang terbentuk sejak zaman dahulu sulit diubah hingga sekarang. Memasuki abad ke-20, S.H. Koorders mendorong pemerintah untuk melindungi flora dan fauna unik di Sumatra yang terancam oleh perburuan liar dan pembukaan lahan.”
Saya pun mendengarkan ayah terus menerus berbicara dengan seseorang lewat telepon genggam dengan nada tinggi. Jika dilihat gestur, tampak orang yang berada di seberang sambungan benda nirkabel itu adalah orang yang tak asing. Ayah tak berubah. Ia masih menggunakan telepon gennggam klasik, bukan gawai modern yang biasa kami pakai. Kata kami HP buat memukul anjing.
“Zaman dahulu perlindungan suaka seperti harimau, gajah, dan badak sumatra di mana kaan tinggal, jika semua beralih ke perkebunan bahkan tambang keseimbangan akan goyah, Wildreservaten tak lagi diindahkan. Tahun delapan puluhan adalah awal mala petaka dari itu semua. Di Sumatra, banyak kawasan hutan berada di bawah otoritas Zelfbestuur. Pemerintah kolonial melakukan negosiasi dengan para sultan untuk menetapkan batas-batas “Hutan Tutupan”. Masyarakat adat seringkali kehilangan akses terhadap hutan ini, yang kemudian memicu konflik karena aturan kolonial melarang sistem perladangan berpindah (ladangbouw) yang dianggap merusak hutan.”
Perlindungan pada suaka dan hutan berganti dengan perkebunan yang tak mampu menahan tanah. Tanaman-tanaman seperti sawit dan karet adalah tumbuhan manja, tidak mampu memberi perlindungan bagi ekosistem. Kebijakan perlindungan hutan dan alam di Sumatra pada masa kolonial Belanda merupakan respons terhadap eksploitasi lahan besar-besaran akibat sistem perkebunan. Kebijakan ini berkembang dari sekadar pengelolaan kayu menjadi upaya konservasi keanekaragaman hayati!”
Suara azan dzuhur bergema, dalam salatnya Laras berdoa agar bisa liburan di kampung halaman kakek. Tak biasanya anak sekecil dia berdoa dan sujud lama. Anak bungsu di keluarga kami itu sujud beberpa waktu. Kata Ustadzah Suci, sujud terakhir adalah doa yang sangat ampuh. Usai solatynya, Laras masih saja mendengar ayah menelpon dan berdebat dengan seseorang di telepon klasik miliknya. Laras hanya berharap doa liburan terwujud.
Tak lama, di depan rumah kami tampak kendaraan online berhenti. Seorang lelaki tua menenteng koper berpakaian Melayu turun dari mobil itu. Seketika Laras berhambur memeluknya. Disusul kami. Ternyata kakek selamat dan ayah sengaja memberi kejutan pada kami. Beliau tak bercerita kalau akan liburan di sini. Orang yang berbicara dengan ayah sedari tadi ternyata adalah kakek yang datang dari Sumatra. Dengan menenteng bangga, Laras menunjukkan piagam peringkat satunya pada kakek. Doa si Laras pun nyata.

Biodata Penulis
Marhaen Wijayanto, penulis kelahiran Boyolali, Jawa Tengah. Menyelesaikan jenjang Pendidikan dasar di Boyolali dan strata satu di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menunaikan tugas sebagai Kepala SD Negeri 7 Simpang Teritip, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Karyanya berupa cerpen dan artikel telah terbit di media lokal di Bangka Belitung dan Nasional.
Mencari Jejak sang Depati dan Roman Terlupakan merupakan dua novel persembahan untuk Pahlawan Depati Amir asal Bangka Belitung. Sedangkan buku Kumpulan Puisi Hujan di Awal Desember terbit pada 2021.
Karya terbarunya Kumpulan Cerpen Buku Tanpa Aksara terbit Juli 2025. Marhaen adalah salah satu peserta kegiatan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III 2020 dan Kongres Bahasa Indonesia XII 2023. Untuk berkomunikasi dengan penulis bisa melalui : wijayantomarhaen9@gmail.com dan WA 0821-6436-1321












