MENANTI DENTANG TERAKHIR (GONG TIGEL)

Dwikki Ogi Dhaswara

Ilustrasi_Gong dan Tari Tigel

Bekaespedia.com_Gooong… Suara Gong bergema.

Bergetar di kala pagi yang berkabut di wilayah Depati Parmisan. Gaungnya perlahan, seakan membangkitkan tanah, bebatuan, pepohonan dan tembok-tembok besar dengan pukulan kecil dari sepotong kayu usang.

Suara itu adalah suara niat dan kasih yang sedang di jalin oleh seorang pemuda pandai besi, bernama Rama. Kali ini, besi yang dibentuknya bukan untuk alat ladang atau senjata perang, melainkan untuk mas kawinnya sendiri.

Gong itu adalah tanda kasih yang akan ia persembahkan kepada Niranjani, kekasih hatinya, seorang penari Tigel yang masyhur di tanah Parmisan.

Tanpa Gong, musik Tari Tigel tak akan hidup, dan tak akan pernah menyatu dengan alunan geraknya. Bukan hanya sebatas penanda irama, akan tetapi pengikat antara gerak, suara, dan makna.

Tibalah acara pernikahan mereka, diserahkannya Gong itu secara adat. Dengan penuh khidmat, ia gaungkan hingga getarnya menjalar ke penjuru dinding kayu, bersahut ke langit-langit rumbia, dan sampai perlahan ke hati setiap jiwa yang hadir.

Kung… Kung… Kung Kung Kung… Suara Gong dan gendang Tigel berpadu indah.

La Payo… La Payo… Syair lagu Tari Tigel telah dikumandangkan.

Suasana pun berpendar bahagia.

Di antara kebisingan yang bahagia itu, Rama tertunduk hormat, sambil mencium tangan istrinya dan berkata dengan suara yang tenang.

“Atas ridho dari Yang Maha Kuasa, aku berjanji untuk menjaga dirimu, wahai Niranjani. Sebagaimana teguhnya Gong yang bergema di tanganku, tak sumbang oleh angin dan tak patah oleh waktu.”

Niranjani pun menjawab dengan lembutnya.

“Aku pun berjanji, akan setia seiring bersama, seirama dalam ayunan rasa.”

Di kemudian hari, desa pun telah kembali dengan ritmenya. Rama dan Niranjani hidup dengan bahagia dan sederhana. Akan tetapi, kebahagiaan selalu saja tak pernah lurus jalannya.

Angin laut datang membawa kabar buruk. Lang Keluit (Kalong) beterbangan resah, dan ombak menerpa pantai dengan hempasan yang tak biasa. Beberapa nelayan berlari ke balai desa dengan napas tersengal-sengal.

“Tuan… Wahai tuan Depati!” Seru seorang nelayan,“di bagian barat telah nampak kapal-kapal dengan layar hitam. Lanun telah mengarah ke laut kita!”

Sejenak di kala itu, desa mendadak senyap. Jiwa-jiwa yang kemarin bahagia kini beralih menegang. Depati pun bangkit dari duduknya, tongkat komandonya diketukkan ke lantainya yang beralaskan tanah.

“Pagari seluruh perbatasan desa, jangan biarkan mereka masuk, atau sampai menjarahi pemukiman warga!” Ucap Depati Parmisan.

Kapal-kapal lanun telah mendekat. Bayang-bayang petaka pun semakin nyata.

Perahu nelayan di bibir pantai parmisan, satu persatu dilahap oleh api yang menyala, ulah dari para lanun yang kejam. Asap hitam menjulang tinggi, membawa bau hangus dan tangis warga yang tertahan oleh mereka. Mata mereka liar seolah membawa niat gelap.

Langkah mereka terhenti di perbatasan desa. Terbentanglah pagar-pagar dari kayu tua, menutup pintu-pintu masuk Parmisan yang dijaga dengan siasat.

Dengan terpaksa mereka para lanun harus bermukim di antara perbatasan itu, sambil menunggu dan mengintai celah, hingga mencari jalan masuk yang belum mereka ketahui.

Di dalam desa, keresahan menjalar ke seluruh warga. Dengan penuh tekad dan keberanian, para lelaki bersiap menghadapi rintangan apapun, demi desa dan keluarga mereka sendiri. Akan tetapi, para perempuan dan anak-anak harus disembunyikan terlebih dahulu.

Ada yang di bawah tanah, ada yang diantar masuk ke dalam hutan rimba, hingga ada yang menetap dan berlindung di gua-gua yang sunyi.

Rama menggenggam tangan Niranjani, dengan hati yang berat menahan gelisah.

“Tenanglah istriku,” ucapnya lembut sambil mengusap rambut istrinya.

“Bumi Parmisan hanya memisahkan kita sebentar. Bukan untuk renggangnya hati, tapi oleh kewajiban atas hal yang tak mestinya kalian para perempuan tanggung, biarkan kami para lelaki yang akan menyelesaikannya. Aku akan menjemputmu, jika resah ini telah usai.” Sambutnya.

Niranjani tertunduk, suaranya lirih berkata.

“Ke mana pun engkau titahkan, maka di sanalah langkahku pergi. kuharap janji kita tetap bernaung.”

Rama pun bergegas membawa Niranjani ke Bukit Parmisan. Bukit itu cukup tinggi menghadap langit, jauh dari langkah kaki dan riuh dunia.

Tempat itu hanya diketahui olehnya dan keluarganya saja. Di sana ia membekali Niranjani dengan makanan, air, kain dan Gong yang turut ia bawa.

“Gong ini kelak akan menjadi tanda. Jika engkau baik-baik saja. Pukul sekali di kala senja. Maka hatiku akan tenang. Namun, jika bahaya mendekat, pukul tiga kali, aku akan berlari melangkahi bukit ini.” Ucap Rama dengan penuh keyakinan.

“Aku akan membuat satu Gong lagi di desa. Agar pesan kita bersambut. Biar jarak tak memutus kabar.” Sambutnya.

Niranjani hanya dapat memeluk Gong itu dengan tulus, air matanya berderai lirih.

Ketika senja pertama mereka lalui, paluan Gong terdengar dari ketinggian. Suaranya jernih, panjang, membuat kalong beterbangan lagi keluar dari gua-gua di kaki Bukit Parmisan.

Membuat para lanun yang berada di seberang desa sedikit merasa ketakutan, bagaikan tanda siasat perang yang akan mereka hadapi.

Rama tersenyum, lalu memalu gongnya sendiri di desa. Suaranya itu bersambut di penjuru udara, meniti angin-angin yang sayup dan kayup membelai dedaunan, menguatkan kuncup-kuncup bunga melati yang terhampar di perbukitan Parmisan.

Beberapa waktu telah berlalu, bagaikan daun yang beguguran, jatuh satu demi satu. Membuat keresahan warga kian menebal. Pagi hingga petang silih berganti, namun perselisihan belum juga usai.

Di perbatasan, para lanun semakin berani, amarah mereka membara. Pintu masuk Parmisan akhirnya roboh. Kayunya rapuh dimakan api, asap hitam membumbung, membawa sesak ke jantung desa.

Pertikaian pun pecah. Para lanun maju dengan senjata lengkap, berhasil memukul mundur barisan pertahanan Parmisan. Tanah desa turut bergetar oleh tapak kaki asing.

Namun beberapa lanun pun juga tumbang, teriak mereka menggelegak, merasakan perangkap yang sudah dibuat oleh warga desa sebelumnya. Peristiwa itu cukup membuat lanun ketakutan. Mereka sempat ragu untuk melangkah lebih jauh, resah akan setiap jengkal tanah yang menyimpan maut.

Di tengah keriuhan, Rama memimpin langkah mundur dengan napas terengah-engah, tatapannya menyapu wajah-wajah letih di sekelilingnya. Rintihan, luka dan getar ketakutan yang tak terucap. Hatinya terhimpit oleh peristiwa dengan kekuatan yang tak seimbang.

Di atas Bukit Parmisan, Niranjani menunggu waktu dengan perasaan berdebar. Ia menggenggam Gong, ingin mengirimkan kabar.

Gong pun berbunyi, Gooongg….

Namun tak ada yang membalasnya, hanya angin yang membawa kembali gema kosong, dan hening yang menjelma beban.

Para lanun yang mendengar gaung itu justru disergap gentar.

“Apa itu?” bisik seorang di antara mereka.

“Siasat apa lagi ini?” sahut yang lainnya.

Mereka kian berhati-hati. Lagi-lagi ketakutan merekalah yang membuat mereka tewas dengan sendirinya, menjadi ceroboh dalam melangkah,  dan rasa takut yang berlebihan, seakan Parmisan memiliki rahasia yang menunggu waktu untuk menewaskan mereka.

Sementara itu, Rama terkurung resah. Ia ingin membalas Gong istrinya, agar suaranya bersua, tapi kesempatan itu tak jua datang.

Setiap detik dipenuhi kewaspadaan. Rumah-rumah warga pun telah dijarah. Semakin membuat ia bersalah dan membebankan langkahnya.

Niranjani masih menunggu. Ia hanya bisa tersandar pada batu, memeluk Gong seperti memeluk harapan. Bekal makanannya telah menyusut, perutnya perih oleh rasa lapar dan ketakutan, namun lebih perih lagi akan rindu yang tak terjawab.

“Suamiku… Ketahuilah aku masih di sini.” Ucap Niranjani dengan lirihnya pada angin.

Tanah Parmisan kian mencekam, tiap jerit yang terdengar menambah beban pundak Rama. Namun, jika ia bergerak tanpa siasat, hanya akan membawa keadaan semakin terpuruk.

Petaka akhirnya memuncak, para lanun menerobos ke jantung desa. Mereka berhasil memasuki ke kediaman Depati Parmisan. Di sanalah pertempuran kembali terjadi. Rama dan beberapa warga desa, berlari melindungi pemimpin mereka.

Benturan pun terjadi. Suara pedang beradu, teriakan pun menyayat lirih pada malam itu, lantai tanah berlumuran basah oleh peluh dan darah.

Rama bertarung dengan senjata seadanya. Hanya sebilah parang tua dan perisai kayu yang terbelah akibat hujaman pedang lanun. Ia maju dengan berani, namun takdir selalu saja tak berpihak pada tekad. Gerak para lanun terlalu kejam dengan bersenjata lengkap.

Satu tebasan kuat, membuat Rama terhuyung hingga tubuhnya rebah menyentuh tanah. Ia jatuh dalam koma, napasnya hanya tinggal sisa, sementara pertempuran masih mengaum di sekelilingnya.

Tak lama kemudian, bala bantuan pun tiba dari Tanah Penyampar. Mereka dipimpin oleh seorang Batin, membawa pasukan terlatih, dan serangannya pun terukur. Mereka berhasil membolak-balik keadaan lanun, satu demi satu tumbang, tunduk, habis di hadapan Batin Penyampar.

Akan tetapi, kemenangan itu datang terlambat bagi Rama.

Batin itu berlutut di sisi tubuh Rama yang terbaring di hadapannya. Mata Rama terbuka, bibirnya bergerak.

“Tuan… Tolong istriku lapar!”

Batin itu terdiam. Kata-kata itu menghujam pikirannya, lebih tajam dari tombak dan pedang lanun yang berada di tempat itu.

“Di mana istrimu?” Tanyanya lirih.

Rama mencoba mengangkat tangannya, namun tenaganya telah habis. Pandangannya menatap ke bukit. Napasnya pun terhenti.

Di Bukit Parmisan, Niranjani terbaring lemah, tubuhnya dingin akan rasa lapar yang amat perih. Pikirannya berkabut, rindu bercampur risau. Gong itu pun tersandar pada bebatuan, diam, sunyi, seakan ikut berduka cita.

“Suamiku…” bisiknya pada angin.

Gong yang dulunya bersambut kini telah berdiam, menyaksikan duka dua insan yang harus terpisahkan dan tak sempat bertemu.

 

TAMAT

Toboali, 15 Desember 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *