SURAT UNTUK KEKASIH

Dwikki Ogi Dhaswara

Ilustrasi

Bekaespedia.com_Kekasihku…

Di kamar teratap buruk yang berlantaikan tanah,

berdinding kulit kayu dan beratap daun nipah ini.

Aku tulis surat ini untuk datang seolah kehadapanmu.

Mengungkapkan seuntai perasaan,

yang pada akhir-akhir ini telah sesak menyayati kalbu dan benakku.

Sedangkan kesempatan untuk bercakap-cakap denganmu,

seolah-olah sudah dihindari.

 

Seperti yang engkau ketahui…

Aku hanyalah orang miskin.

Terlebih lagi saat ini,

aku tak punya harta seperti apa kemauan orang tuamu.

 

Telah sekian lama…

Aku kehilangan segala-galanya,

Termasuk kasih sayang orang tuaku sendiri,

yang saat ini sama sekali sudah tak ada lagi.

Padahal aku masih membutuhkannya.

 

Kekasihku…

Hati ini telah merasakan,

bahwa engkau adalah segala-galanya bagiku.

Wajar jika di relung hati ini,

lahir segenggam keinginan untuk mempersunting dirimu.

Namun, sulit aku menunaikannya.

 

Semua ini, aku katakan dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi, jikalau kata-kataku ini telah menggores duka di hatimu,

maka maafkanlah diriku.

 

Aku berharap…

Perasaan cinta dan kasih sayang yang tumbuh,

dan telah bertunas di taman hatiku ini,

hendaknya tidak tumbuh subur di taman hatiku saja.

Semoga di taman hatimu akan tetap tumbuh juga,

bersama-sama kita pupuk dan kita sirami,

agar berbunga, berputik dan berbuah.

 

Begitulah harapku…

Namun, jikalau engkau sudah tidak merasakan demikian,

dan tidak membutuhkannya lagi,

apa hendak dikata,

maka aku dengan ikhlas akan mengundurkan langkah.

 

Yakinlah…

Aku takkan merasa kecewa dan sakit hati.

Hanya aku bermohon kepadamu,

agar di antara kita tetap bersahabat sebagai abang dan adik.

Janganlah saling menghindar diri.

 

Kekasihku…

Aku rasa inilah segalanya,

apa yang aku rasakan saat ini,

semoga engkau dapat memahaminya.

 

Jikalau ada waktu balaslah suratku ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *